Dewan Pakar MES Bahas Strategi Penguatan Riset dan Teknologi Bagi UMKM Halal

Dewan Pakar MES Bahas Strategi Penguatan Riset dan Teknologi Bagi UMKM Halal

Jumlah UMKM di Indonesia saat ini mencapai 64,2 juta dengan kontribusi PDB nasional mencapai 61%. Pencapaian tersebut dapat terus dikembangkan, khususnya pada sektor UMKM halal untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai pusat industri halal dunia pada tahun 2024. Namun hal tersebut masih membutuhkan penguatan di beberapa aspek diantaranya riset dan teknologi. Kedua aspek tersebut dapat mengoptimalkan pengembangan industri UMKM halal di Indonesia berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli di bidangnya.

Untuk mendorong penguatan aspek riset dan teknologi pada sektor UMKM Halal, Dewan Pakar MES kembali menyelenggarakan Muhadatsah Dewan Pakar MES Edisi Ke-10 dengan tema “Penguatan Dukungan Riset dan Teknologi dalam Pengembangan Usaha Produk Halal Sektor UMKM” pada Sabtu, 28 Mei 2022 secara virtual.

Perry Warjiyo dalam kesempatan tersebut mengatakan dukungan riset dan teknologi sangat diperlukan untuk pengembangan produk halal serta terhubung dengan para pelaku industri.

Indonesia sendiri berada di urutan ke-14 untuk riset dan inovasi di Asia Tenggara dan urutan ke-87 secara global. Menurut Perry, ini menjadi motivasi tersendiri bagi para pelaku industri agar dapat lebih serius meningkatkan kapasitasnya.

Perry melanjutkan, di sektor ekonomi syariah, Indonesia punya modal cukup signifikan yang dapat dimanfaatkan. Seperti sembilan pusat riset di bidang sains halal, lebih 58 program dan pusat studi ekonomi syariah dan science halal yang juga aktif melakukan riset serta inovasi.

Perry menambahkan, ada tiga poin penting yang dapat dijadikan catatan agar pengembangan riset inovasi dapat sejalan dengan upaya penguatan industri halal. Pertama, inovasi dan riset berbasis pada ragam kekayaan khas yang dimiliki Indonesia.

Menurutnya, Indonesia punya beragam sumber daya, baik alam maupun budaya, yang dapat dikembangkan dan memerlukan riset mendalam. Sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan dan difokuskan untuk riset terapan.

Perry mengatakan, Indonesia perlu lebih banyak riset terapan agar bisa jadi nilai tambah terutama bagi produk halal Indonesia. Ragam budaya dan sumber daya ini dapat dijadikan sebagai inspirasi.

Kedua, perlunya sinergi kegiatan riset dan teknologi dengan kebutuhan industri. Menurut Perry, MES mendorong agar pelaku usaha halal bisa berkolaborasi dengan pusat-pusat riset yang ada di Indonesia, termasuk melalui Perguruan Tinggi. Hal ini juga guna memaksimalkan sumber daya yang ada untuk kegiatan yang lebih produktif.

Ketiga, perlunya mendorong sumber pendanaan baru untuk riset dan inovasi dari sektor keuangan syariah. Menurutnya, dukungan pendanaan filantropis perlu juga kita dorong melalui zakat atau wakaf produktif di sektor industri halal.

Perry mengatakan inovasi keuangan syariah dapat menjadi motor bagi pengembangan riset. Salah satu yang memungkinkan adalah mobilisasi wakaf produktif yang dapat dielaborasi secara lebih lanjut.

Dalam forum muhadatsah kali ini hadir dua narasumber yaitu Ketua PP Salimah, Etty Pratiknyowati dan Deputi Kebijakan Pembangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional, Mego Pinandito, serta penanggap utama yaitu Dewan Pakar MES, Ikhsan Abdullah dengan dipandu oleh Euis Amalia selaku moderator acara. 

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Editor : Herry Aslam Wahid

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *