Ketua Umum MES, Wimboh Santoso, Dikukuhkan sebagai Guru Besar

Surakarta – Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) sekaligus Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Wimboh Santoso, dikukuhkan sebagai Guru Besar Dosen Tidak Tetap Ilmu Manajemen Risiko pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta (26/8).

Pengukuhan Profesor Wimboh dilakukan di hadapan Senat UNS di Auditorium GPH Haryo Mataram UNS Surakarta, yang dihadiri sejumlah pimpinan Kementerian/Lembaga, pimpinan pemerintah daerah dan para pimpinan Industri Jasa Keuangan.

Sebagaimana disampaikan oleh rektor UNS Jamal Wiwoho dalam pengantarnya, Wimboh yang telah cukup lama mengajar di UNS menjadi guru besar tidak tetap pertama di kampus tersebut. “Telah lama mengajar dengan status dosen tidak tetap. Prof. Wimboh Santoso, SE, MSc, PhD menjadi guru besar tidak tetap pertama di UNS,” katanya.

Keahlian di level praktis yang dimiliki oleh Wimboh menurutnya sangat dibutuhkan di dunia akademis, terutama di kampus tersebut. Hal ini sehubungan dengan besarnya tantangan dalam menghadapi era industri 4.0. Sebagaimana diketahui, keahlian ekonomi di bidang ini juga lah yang membawa Wimboh kepada karirnya yang cemerlang sejak di Bank Indonesia, International Monetary Fund, hingga Otoritas Jasa Keuangan.
Dalam pengukuhan guru besarnya, Wimboh menyampaikan pidato dengan judul “Revolusi Digital: New Paradigm di Bidang Ekonomi dan Keuangan”. Pidato itu menjelaskan gambaran perlunya pendekatan baru dalam melihat proyeksi ekonomi di era kemajuan teknologi yang sangat pesat.

Prof. Wimboh Santoso, SE, MSc, PhD memberikan pidato pengukuhan pada acara Sidang Senat Terbuka di Auditorium UNS, Solo, Jawa Tengah, Senin (26/8/2019)

“Teknologi telah merevolusi gaya hidup masyarakat yang mengakibatkan terjadinya pergeseran di tatanan ekonomi dan landscape sektor jasa keuangan yang akan menimbulkan distorsi dalam masa transisinya,” kata Wimboh dalam keterangan tertulis.

Di satu sisi, kata dia, kehadiran teknologi itu diharapkan menjadi solusi bagi peningkatan daya saing ekonomi dan terbukanya akses keuangan masyarakat. Namun di sisi lainnya, kata dia, menimbulkan potensi risiko teknologi yang besar sehingga diperlukan pendekatan baru dalam melihat proyeksi ekonomi dan potensi risikonya terhadap stabilitas sistem keuangan serta perlindungan konsumen.

Ke depan, kata Wimboh, seiring dengan berkembangnya artificial intelligence, jasa advisory berpotensi untuk dilakukan oleh robo advisor, menggantikan peran para analis. Di luar lembaga jasa keuangan konvensional di pasar modal, saat ini sudah berkembang pula marketplace untuk produk-produk pasar modal. (PN)

About the author: ekonomis

Leave a Reply

Your email address will not be published.Email address is required.