Kontribusi Pasar Modal Syariah dalam Memajukan Keuangan Syariah

Manulife Aset Manajemen Indonesia Meluncurkan Reksa Dana Manulife Dana Kas Syariah Sebagai Upaya untuk Ikut Memajukan Pasar Modal Syariah.

Jakarta, 31 Agustus 2018 – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (“MAMI”) mengadakan acara diskusi Kontribusi Pasar Modal Syariah dalam Memajukan Keuangan Syariah Indonesia dengan menghadirkan Fadilah Kartikasasi, Direktur Pasar Modal Syariah, Otoritas Jasa Keuangan, Edy Setiadi, Sekjen Masyarakat Ekonomi Syariah, Legowo Kusumonegoro, Presiden Direktur MAMI, dan Justitia Tripurwasani, Ketua Unit Pengelolaan Investasi Syariah MAMI sebagai pembicara. Acara dilakukan bertepatan dengan peluncuran reksa dana Manulife Dana Kas Syariah dan pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada hari ini (31/8).

Dalam acara diskusi, Edy Setiadi, Sekjen Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) mengatakan, “Aset keuangan syariah di Indonesia masih relatif kecil, yaitu USD 81,8 miliar di tahun 2016. Namun kalau kita lihat pertumbuhannya, sangat menggembirakan. Industri keuangan syariah di Indonesia mengalami pertumbuhan yang paling pesat di dunia. Dalam setahun, dari tahun 2015 hingga 2016, pertumbuhannya mencapai 72%. Jauh di atas Iran (26%), Bahrain (22%), Kuwait (20%), dan Bangladesh (18%). Didukung oleh jumlah penduduk muslim yang terbesar di dunia, sistem keuangan syariah yang terlengkap, dan landscape ekonomi syariah serta filantropi syariah yang memadai, Indonesia berpeluang menjadi pusat keuangan syariah di dunia.”

Berdasarkan data OJK, aset industri keuangan syariah Indonesia mencapai Rp 1.204,48 triliun hingga akhir Juni 2018. Kontributor paling besar bagi aset industri keuangan syariah di Indonesia adalah pasar modal syariah. Pasar modal syariah, di luar kapitalisasi saham yang tercatat di Indeks Saham Syariah Indonesia, memberikan kontribusi sebesar 55% atau sejumlah Rp 661,71 triliun. Angka ini jauh lebih besar daripada aset di perbankan syariah yang sejumlah Rp 444,43 triliun maupun di IKNB (Industri Keuangan Non-Bank) syariah yang sejumlah Rp 98,34 triliun. “Secara agregat, market share industri keuangan syariah di Indonesia baru mencapai 8,47% dari total keseluruhan aset di industri jasa keuangan. Masih banyak ruang untuk pertumbuhan,” ujar Fadilah Kartikasasi, Direktur Pasar Modal Syariah OJK.

Berdasarkan data OJK, aset industri keuangan syariah Indonesia mencapai Rp 1.204,48 triliun hingga akhir Juni 2018. Kontributor paling besar bagi aset industri keuangan syariah di Indonesia adalah pasar modal syariah. Pasar modal syariah, di luar kapitalisasi saham yang tercatat di Indeks Saham Syariah Indonesia, memberikan kontribusi sebesar 55% atau sejumlah Rp 661,71 triliun. Angka ini jauh lebih besar daripada aset di perbankan syariah yang sejumlah Rp 444,43 triliun maupun di IKNB (Industri Keuangan Non-Bank) syariah yang sejumlah Rp 98,34 triliun. “Secara agregat, market share industri keuangan syariah di Indonesia baru mencapai 8,47% dari total keseluruhan aset di industri jasa keuangan. Masih banyak ruang untuk pertumbuhan,” ujar Fadilah Kartikasasi, Direktur Pasar Modal Syariah OJK.

Lebih lanjut Fadilah menjabarkan komposisi aset di industri pasar modal syariah. Disebutkan bahwa hingga 16 Agustus 2018, aset di pasar modal syariah masih didominasi oleh saham syariah (Rp 3.432 triliun), disusul oleh sukuk negara (Rp 627 triliun). Dalam kategori aset yang lain, aset di reksa dana syariah masih sejumlah Rp 32 triliun dan di sukuk korporasi sejumlah Rp 17 triliun.

Fadilah mengatakan, “Untuk mengembangkan pasar modal syariah, terutama reksa dana syariah, OJK berharap agar para pelaku di industri ini dapat gencar melakukan edukasi ke masyarakat luas, memanfaatkan fintech untuk memberikan kemudahan akses bagi masyarakat ke produk-produk pasar modal syariah, dan menyediakan variasi produk investasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia dan terjangkau.”

Terkait dengan usaha mengembangkan reksa dana syariah, Justitia Tripurwasani, Ketua Unit Pengelolaan Investasi Syariah (UPIS) MAMI, menyatakan, “Sejalan dengan upaya OJK untuk mengembangkan pasar modal syariah, MAMI melakukan beragam upaya untuk meningkatkan inklusi reksa dana syariah. Upaya MAMI diawali dengan pembentukan UPIS sejak tahun lalu. Kemudian kami membuat modul edukasi finansial syariah dan menjalin kerja sama dengan MES serta NU Online untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat akan reksa dana syariah. Tahun lalu MAMI mengadakan lebih dari 2.800 aktivitas edukasi finansial. Di tahun ini, kami juga terus melakukan beragam aktivitas edukasi finansial, termasuk melalui komik Si Juki vs Dompet Kosong. Bersama MES, MAMI mengadakan kegiatan edukasi dan inklusi reksa dana syariah di Bekasi, Solo, dan Gorontalo. Kami juga telah memiliki klikMAMI.com, portal transaksi reksa dana untuk memudahkan masyarakat berinvestasi di reksa dana dari mana pun dan kapan pun.”

Legowo Kusumonegoro, Presiden Direktur MAMI mengatakan, “Kami terus mendengarkan kebutuhan investasi masyarakat. Kemudian kami lengkapi ragam produk reksa dana syariah kami, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Upaya kami membuahkan hasil yang menggembirakan. Dalam periode satu tahun, MAMI yang telah memiliki pengalaman mengelola reksa dana syariah sejak tahun 2009, mengalami pertumbuhan 474% dalam AUM reksa dana syariah. Dari semula Rp 1,3 triliun di akhir Juni 2017 menjadi Rp 7,7 triliun di akhir Juni 2018. Ini artinya, reksa dana syariah MAMI memberikan kontribusi sebesar 27% bagi AUM reksa dana MAMI yang sejumlah Rp 28,9 triliun pada akhir Juni 2018.”

“Melihat masih tingginya kebutuhan investasi masyarakat Indonesia di reksa dana syariah, hari ini kami meluncurkan reksa dana Manulife Dana Kas Syariah (“MDKS”). Reksa dana pasar uang ini memiliki enam keunggulan: terjangkau karena minimum investasinya hanya Rp 10 ribu, dikelola sesuai dengan prinsip syariah, bebas biaya pembelian dan pencairan investasi, fluktuasi yang rendah, dan potensi imbal hasilnya mirip deposito syariah,” ujar Legowo.

Lebih lanjut Legowo menjelaskan, “Reksa dana MDKS cocok bagi 3 tipe investor. Yang pertama, bagi investor pemula yang baru belajar mengenal investasi reksa dana. Dengan fluktuasi yang rendah, investor pemula tidak perlu was-was akan dana investasinya. Kedua, bagi investor yang memiliki tujuan investasi dalam jangka pendek. Dengan pergerakan yang lebih stabil, reksa dana MDKS ideal untuk dijadikan sebagai wadah pengembangan dana dalam jangka pendek. Ketiga, bagi investor yang berpengalaman, reksa dana MDKS dapat dijadikan sebagai pelengkap investasi saham syariah. Di saat pasar sedang bergejolak, investor dapat mengalihkan sementara investasi saham syariahnya ke MDKS. Hal ini umumnya dilakukan untuk mengurangi tingkat fluktuasi, namun tetap mendapatkan potensi pertumbuhan dana.”

Dengan diluncurkannya reksa dana MDKS, MAMI mengelola empat reksa dana syariah, yang terdiri dari 2 reksa dana saham syariah, 1 reksa dana syariah sukuk, dan 1 reksa dana pasar uang syariah. Reksa dana Manulife Syariah Sektoral Amanah (MSSA) yang ditawarkan sejak tahun 2009 telah memiliki dana kelolaan sejumlah Rp 337,67 miliar hingga akhir Juli 2018. Pada periode yang sama, Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS (MANSYAF), yang memiliki diversifikasi portofolio di delapan negara dan diluncurkan pada 15 Februari 2016, telah memiliki dana kelolaan sejumlah USD 451,81 juta. Sementara Manulife Syariah Sukuk Indonesia (MSSI), yang menawarkan kemudahan investasi hanya dengan dana minimum Rp 10 ribu dan diluncurkan pada Mei tahun lalu, memiliki dana kelolaan sejumlah Rp 597,12 miliar.

 

About the author: ekonomis

Leave a Reply

Your email address will not be published.Email address is required.