Potensi ekonomi lokal di Aceh Besar dinilai perlu diolah lebih jauh agar tidak berhenti pada penjualan komoditas mentah. Penguatan literasi ekonomi dan keuangan syariah, digitalisasi, serta hilirisasi menjadi bagian penting untuk membuka akses pasar dan meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Daerah (PD) MES Aceh Besar, Amalia, dan Ketua Dewan Pakar MES Aceh Besar, Hafas Furqani, dalam program Ekonomi Digital RRI Banda Aceh, pada Jumat (28/8).
Amalia mengatakan, sejak MES Aceh Besar berdiri pada tahun 2024, peningkatan pemahaman masyarakat mengenai ekonomi dan keuangan syariah menjadi salah satu perhatian utama.
“Pemahaman ekonomi dan keuangan syariah ini tidak hanya tentang akad dan transaksi, tetapi juga bagaimana masyarakat memahami investasi dan akses pembiayaan, terutama untuk UMKM,” kata Amalia.
Menurutnya, MES memiliki posisi untuk mempertemukan berbagai pihak yang dapat mendukung pengembangan ekonomi syariah di daerah. Pihaknya ingin menjadi jembatan antarpemangku kepentingan agar ekonomi syariah bisa memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.
Perkembangan ekonomi digital, lanjut Amalia, juga memberikan ruang yang lebih besar bagi UMKM untuk berkembang. Pelaku usaha dapat memanfaatkan teknologi untuk memperluas pemasaran sekaligus mempermudah proses transaksi.
“Digitalisasi sebenarnya menjadi peluang bagi UMKM untuk memperluas pemasaran dan memudahkan transaksi. Tantangannya adalah literasi digital dan literasi keuangan masih perlu diperkuat, terutama bagi pelaku usaha yang selama ini menjalankan bisnis secara tradisional,” katanya.
Karena itu, MES Aceh Besar mendorong kolaborasi yang dapat mempertemukan UMKM dengan pasar yang lebih luas. Penguatan kapasitas pelaku usaha diarahkan agar mereka tidak hanya mampu menjalankan usaha, tetapi juga memiliki kesiapan untuk berkembang.
“Kami ingin menguatkan kolaborasi dan menghubungkan UMKM dengan calon pembeli yang potensial. Harapannya, UMKM kita bisa naik kelas dan tidak hanya bermain di pasar yang itu-itu saja,” ujar Amalia.
Sementara itu, Hafas mengatakan Aceh Besar memiliki sejumlah potensi yang dapat menjadi kekuatan ekonomi daerah, terutama pada sektor pertanian, UMKM, dan pesantren.
“Potensi Aceh Besar itu cukup besar, terutama di sektor pertanian, UMKM, dan pesantren. Ini harus kita arahkan kepada sektor riil supaya potensi yang ada benar-benar memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” kata Hafas.
Ia menilai pengembangan sektor riil perlu dilanjutkan dengan proses hilirisasi agar komoditas lokal tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
“Jangan sampai hasil pertanian, perikanan, perkebunan, dan komoditas Aceh lainnya hanya dijual sebagai bahan mentah. Kita perlu mendorong pengolahan di daerah sehingga nilai tambahnya bisa lebih besar,” ujarnya.
Menurut Hafas, hilirisasi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan nilai ekonomi produk, tetapi juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat di daerah.
“Kalau kita bisa mengolah komoditas itu di daerah, nilai tambahnya akan tinggal di daerah. Ini juga bisa membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” katanya.
Dengan menghubungkan literasi, digitalisasi, penguatan sektor riil, dan hilirisasi, potensi lokal Aceh Besar diharapkan tidak hanya menjadi sumber komoditas, tetapi berkembang menjadi produk bernilai tambah yang mampu memperluas peluang usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pewarta: Muhammad Lutfi N.S.
Foto: Dokumentasi MES
Eksplorasi konten lain dari Masyarakat Ekonomi Syariah
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




