MES Dorong Akselerasi Ekonomi Syariah untuk Rebut Kembali Posisi Global

MES Dorong Akselerasi Ekonomi Syariah untuk Rebut Kembali Posisi Global

Persaingan ekonomi syariah global semakin menuntut Indonesia bergerak lebih cepat. Di dalam negeri, tantangannya bukan lagi sekadar meningkatkan pemahaman masyarakat, tetapi mengubah literasi menjadi penggunaan produk dan layanan syariah yang lebih luas.

Tantangan tersebut mengemuka dalam Rapat Majelis Pimpinan Pleno (MPP) Pengurus Pusat MES di Wisma Danantara pada Kamis (13/8), yang diikuti oleh jajaran Badan Pengurus Harian (BPH) beserta para Ketua Komite dan Dewan Pengurus Pusat MES.

Ketua Dewan Pertimbangan PP MES, Ma’ruf Amin, menilai Indonesia perlu mempercepat pengembangan ekonomi syariah setelah posisinya turun dari peringkat ketiga menjadi keempat secara global. Menurutnya, perubahan tersebut lebih mencerminkan akselerasi negara lain yang bergerak lebih cepat.

“Peringkat ini harus kita rebut kembali, jangan sampai justru turun ke peringkat lima. Oleh karena itu, kita harus melakukan upaya-upaya akselerasi di berbagai sektor,” tegasnya.

Menurutnya, penguatan inklusi menjadi salah satu pekerjaan utama. Tingkat literasi ekonomi syariah yang telah berada di kisaran 43–45 persen belum sepenuhnya diikuti penggunaan produk dan layanan syariah, dengan inklusi masih sekitar 13 persen.

“Sudah banyak orang yang tahu tentang ekonomi syariah, tetapi yang benar-benar terlibat dan menggunakan produk syariah masih sedikit. Karenanya kita harus memperbanyak agen-agen syariah agar angka inklusi ini bisa semakin besar,” ujar Ma’ruf.

Karena itu, agen ekonomi syariah perlu diperluas di perbankan, asuransi, pasar modal, koperasi, hingga sektor pelayanan publik. KH Ma’ruf Amin juga mendorong evaluasi regulasi yang berpotensi menghambat pertumbuhan industri, termasuk persoalan double tax.

Ia turut menyoroti kebijakan spin-off Unit Usaha Syariah agar tidak melemahkan lembaga yang telah berkembang, melainkan mendorong lahirnya entitas yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Berita terkait  Satu Dekade Menebar Kebaikan: ISEF 2023 Capai Transaksi Senilai Rp28,9 Triliun

“Kita harus memfasilitasi agar kebijakan spin-off ini jangan sampai membunuh lembaga yang sudah ada. Justru kita harus memikirkan bagaimana entitas yang melakukan spin-off ini bisa mandiri, hidup, dan berkembang,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum PP MES, Rosan P. Roeslani, menekankan bahwa dorongan akselerasi tersebut perlu diterjemahkan menjadi program yang berdampak nyata dan cepat. Salah satu fokus MES ialah memperluas akses finansial syariah melalui penguatan koperasi di tingkat masyarakat.

“Kehadiran MES harus memberikan dampak yang masif, positif, dan cepat terhadap seluruh lapisan masyarakat di Indonesia,” ujar Rosan.

Penguatan tersebut, lanjut Rosan, dapat dilakukan melalui koperasi masjid dan koperasi pesantren yang terhubung dengan perbankan dan lembaga keuangan syariah. Model ini dinilai dapat memperluas akses pembiayaan sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi syariah berbasis komunitas.

“Kalau pemerintah pada umumnya mendorong berdirinya koperasi desa, maka dalam ekosistem ekonomi syariah kita bisa mendorong lebih kuat lahirnya koperasi masjid dan koperasi pesantren. Kendala terbesar di lapangan saat ini adalah akses sektor finansial syariah kepada masyarakat luas,” tutur Rosan.

Berita terkait  Indonesia Islamic Economic Forum MES ke VIII Bahas Penguatan Peran Keuangan Syariah dan Investasi Berdampak untuk Pemberdayaan Masyarakat

Rosan juga mendorong pemetaan program berdasarkan skala prioritas dan dampak di berbagai daerah, disertai peningkatan kapasitas SDM agar program MES dapat dieksekusi secara konsisten dan terukur.

Untuk memperluas jangkauan organisasi, MES menyiapkan single membership system sebagai tahap awal transformasi digital menuju super apps MES. Sistem ini diarahkan untuk mengintegrasikan data, keanggotaan, informasi, dan akses program MES hingga daerah dan luar negeri.

Di bidang kebijakan, MES juga mendorong pemanfaatan metodologi PDB ekonomi syariah yang telah disusun bersama BPS untuk memetakan kontribusi dan potensi ekonomi syariah secara lebih terukur. Data tersebut diharapkan memperkuat advokasi sekaligus menjadi pijakan bagi perumusan kebijakan.

Rapat MPP turut membahas penguatan industri dan ekspor halal, pariwisata ramah muslim, pemberdayaan pesantren dan masjid, keuangan sosial Islam, serta energi terbarukan dan konservasi lingkungan sebagai bagian dari penguatan ekosistem ekonomi syariah.

Pewarta: Muhammad Lutfi N.S.
Foto: Dokumentasi MES


Eksplorasi konten lain dari Masyarakat Ekonomi Syariah

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses