Nasib Keuangan Syariah di Tengah Pandemi Covid-19

Jakarta – Senin (13/04) Pengurus Pusat MES kembali menyelenggarakan Sharia Online Talk Series episod ke 2 dengan mengangkat tema Covid-19 dan dampaknya terhadap Pertumbuhan Keuangan Syariah. Diskusi yang berlangsung selama hampir 1 jam ini dilakukan secara live streaming melalui platform instagram dengan pembicara dari Pengurus Pusat MES, Ali Sakti.

Diskusi diawali dengan penjelasan pandemi Covid-19 telah menyebabkan kondisi ekonomi Indonesia terancam krisis. Namun demikian dengan cukup sigap pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan dengan memberikan stimulus dunia usaha dan meminimalisir risiko yang diakibatkan pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.

Pengurus Pusat MES, Ali Sakti menjelaskan permasalahan ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini merupakan kondisi yang berbeda dengan krisis sebelumnya. “Perlu disadari bahwa permasalahan ekonomi saat ini berbeda dengan sebelumnya. Pertama karena kunci dari permasalahan ekonomi adalah wabah, sehingga kondisinya harus bisa mengendalikan wabah itu sendiri dan sudah disepakati oleh pakar ekonomi bahwa penyelamatan jiwa harus diutamakan daripada ekonomi, karena kalau belum bisa megendalikan wabah maka segala teori yang mengandalkan kebijakan ekonomi itu tidak berlaku.” jelas Ali membuka diskusi.

Lebih lanjut, mencermati perkembangan saat ini, Ali merasa khawatir dengan kondisi keuangan syariah khususnya lembaga keuangan mikro syariah. “Sektor keuangan syariah saat ini lebih di dominasi oleh 2 bagian yaitu capital market dan perbankan, yang paling mengena adalah lembaga keuangan syariah yang memang berhubungan langsung dengan sektor rill namun dalam hal ini yang saya khawatir adalah lembaga keuangan mikro syariah. BPRS, KSPPS dan BMT melayani unit usaha yang mengandalkan transaksi harian, dengan kecenderungan orang work from home itu membuat orang tidak prefer melakukan aktivitas di luar rumah sehingga akan berdampak langsung dengan likuiditasnya.” imbuhnya.

Sementara itu, pihaknya juga menjelaskan bahwa kebijakan relaksasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah hanya dapat memberikan keringanan jangka pendek. “Untuk saat ini mungkin relaksasi yang diberikan pemerintah akan membuat lebih ringan jika wabah ini hanya satu bulan, tapi durasi wabah tidak ada yang bisa memperkirakan. Jadi saya fikir relaksasi ini tidak cukup memberi solusi untuk sektor rill, karena memang relaksasi diperuntukkan bagi lembaga keuangan, padahal sektor usaha adalah lembaga strategis dari mitra keuangan sektor syariah.”

Pria yang juga menjabat Researcher Bank Indonesia ini menyatakan harapannya agar dilakukan inovasi produk pada lembaga keuangan mikro syariah “saya berharap akan ada inovasi yang dilakukan oleh sektor usaha terutama sektor ekonomi mikro yang mereka memiliki reputasi fleksibel dalam kondisi apapun. Sebenarnya bisa dicari bahwa kondisi krisis juga akan ada produk yang memang meningkat permintaanya seperti produk kesehatan dan yang berhubungan dengan itu, semua produk tersebut harusnya bisa diperhatikan untuk bisa diproduksi secara cepat sehingga sektor usaha dapat bernafas meskipun dalam kondisi demikian.”

Diakhir diskusi, Ali juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi secara maksimal dalam menciptakan peluang ekonomi ditengah pandemi yang melanda. “Ini waktunya kita naik satu tingkat dimana penggunaan teknologi akan lebih massif daripada sebelumnya, karena work from home memaksa kita untuk melakukan piranti yg berbasis digital, yang membuat seruan untuk menjaga dari interaksi face to face dan berisiko dalam kondisi wabah dalam rangka menjaga tingkat transaksi ekonomi yang membuat mesin ekonomi tetap jalan.” pungkasnya.

About the author: ekonomis

Leave a Reply

Your email address will not be published.Email address is required.