Mitigasi Dampak Buruk Pinjol Ilegal, MES Banyumas Lakukan Langkah Preventif

Mitigasi Dampak Buruk Pinjol Ilegal, MES Banyumas Lakukan Langkah Preventif

Dalam menghadapi dominasi era digital yang semakin meluas, literasi keuangan tidak hanya menjadi kebutuhan, melainkan juga sebagai pilar utama memitigasi dampak buruk yang potensial muncul akibat pinjaman online. Langkah ini diambil oleh MES Banyumas melalui seminar nasional tentang upaya preventif jeratan pinjaman online pada Kamis (07/03).

Seminar nasional yang dihadiri oleh 300 mahasiswa dari berbagai universitas di Banyumas tersebut, selain menghadirkan Otoritas Jasa Keuangan Purwokerto sebagai narasumber, juga turut mengundang dua narasumber lain, yaitu Branch Manager Bank Muamalat Purwokerto, Budi Santoso, dan Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Naelati Tubastuvi.

Menurut Branch Manager Bank Muamalat Purwokerto, Budi Santoso, fenomena ini terjadi karena antara literasi dan penetrasi tidak setara.

“Kalau buka aplikasi atau media sosial, kita sering disuguhkan dengan banyak iklan yang muncul berhubungan dengan pinjaman online. Bahkan, di website yang mengulas tips bebas dari jeratan pinjaman online saja, justru iklannya juga pinjaman online,” terangnya.

Berita terkait  PW MES Jateng Gandeng Alisa lakukan Pengembangan UMKM

Menurut data Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) 2024, 1 dari 5 mahasiswa pernah punya pengalaman langsung dengan pinjaman online, baik dari legal atau ilegal, termasuk pay later. Pada saat yang sama, laporan CNN Indonesia 2024 menyatakan, akibat iklan pinjaman online yang kian masif, terutama pada kelompok mahasiswa, hingga saat ini total utang pinjaman online di Indonesia mencapai 450 miliar.

“Oleh karena itu, hati-hati dalam memutuskan transaksi pinjaman online atau pay later, karena kalau tidak siap akan berdampak dan merugikan,” lanjutnya.

Mantan Ketua Perkumpulan Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Semarang Raya 2022-2023 tersebut menerangkan, jika gagal dalam melakukan pelunasan pinjaman online, terdapat tiga dampak yang akan diterima, yaitu SLIK jelek, gangguan psikis akibat debt collector, serta potensi gali lubang tutup lubang yang susah untuk diselesaikan.

Atas dasar permasalahan tersebut, Budi Santoso selaku Branch Manager Bank Muamalat Purwokerto hendak bekerjasama dengan perguruan tinggi mengadakan program pelatihan literasi keuangan melalui program MBKM. Selain pelatihan, terdapat pendampingan kepada masyarakat umum melalui agen literasi dan edukasi tentang ekonomi syariah.

Berita terkait  Bertemu Glico, Wapres Bangun Jejaring Ekosistem Halal Dunia

Sejalan dengan program pelatihan literasi keuangan yang dilakukan oleh Bank Muamalat bekerjasama dengan perguruan tinggi, pada tahun 2015 Perkumpulan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkenalkan Sustainable Development Goals (SDG).

Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Naelati Tubastuvi mengatakan, saat ini ranking indeks SDG Indonesia berada di peringkat 82 dari 163 negara dengan skor 69,2 persen.

Menurut McKinsey Global Institute, terdapat 10 indikator yang mendorong tercapainya Sustainable Development Goals (SDG), salah satunya adalah inklusi keuangan.

“Kalau belum mencapai, maka tingkat inklusi rendah,” tutur Naelati Tubastuvi.

Setelah setiap narasumber menyampaikan materi, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab, serta ditutup dengan closing statement oleh narasumber.

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *