Kembali ke Pertanian Sebagai Tulang Punggung Perekonomian

Kembali ke Pertanian Sebagai Tulang Punggung Perekonomian

Oleh: Bambang Saputra – Sekretaris Umum Pengurus Daerah MES Balikpapan

Perekonomian global kian “mendung”. Terjadi perlambatan ekonomi akibat kenaikan suku bunga serentak di hampir semua negara dengan besaran yang tak pernah terjadi dalam lima dekade terakhir. Bank sentral Amerika Serikat (The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuan untuk kelima kalinya tahun ini menyebabkan rupiah melemah hampir Rp 16.000. Bank Indonesia (BI) mengikuti dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 4,7 persen. Kenaikan suku bunga ini diyakini akan berdampak langsung pada kenaikan suku bunga kredit dan peningkatan beban pemerintah dalam membayar utang.  

Sebenarnya pemicu awal perlambatan ini adalah pandemi Covid-19 yang mendisrupsi rantai pasok global secara perlahan-lahan sekaligus mengerek tingkat inflasi. Terganggunya pasokan menyebabkan harga-harga bergerak naik. Situasi geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina turut memperburuk keadaan. Terganggunya pasokan energi membuat harga minyak melambung hingga USD100/barel. Terhentinya ekspor gandum dari Ukraina berdampak krisis pangan di banyak negara. Kondisi ini juga diperparah dengan perubahan iklim yang menyebabkan menurunnya produktivitas pangan. 

Terkait dengan kondisi saat ini, studi Bank Dunia menunjukkan bahwa resesi global kali ini lebih banyak didorong oleh faktor produksi ketimbang faktor konsumsi. Oleh karena itu, menurut Bank Dunia, untuk mencapai stabilitas harga dan kualitas pertumbuhan semua negara disarankan agar lebih banyak melakukan produksi dan mengurangi konsumsi melalui relokasi sumber daya untuk investasi. 

Berita terkait  Jihad Literasi dan Inklusi Investasi Syariah

Fokus produksi dapat diarahkan kembali pada pembangunan sektor pertanian untuk mengantisipasi tantangan global krisis pangan, stabilitas harga, dan ketahanan pangan. Swasembada pangan akan menjadi pondasi kuat bagi stabilitas moneter untuk sebuah negara.

Pembangunan pertanian masa depan memang tetap harus mengutamakan produksi pangan, namun tidak hanya mengutamakan beras, tetapi juga bahan pangan lain seperti jagung, kentang, ubi kayu, ubi jalar, talas, gandum, dan sagu. Bahan-bahan tersebut dapat diolah menjadi cornflakes atau tepung jagung sehingga bisa menggantikan gandum yang cenderung mesti diimpor.

Penguatan pangan juga harus diarahkan tidak hanya fokus pada peningkatan kapasitas produksi demi harga pangan murah, tetapi juga kesejahteraan/pendapatan petani. Hal ini dapat dilakukan setidaknya dengan lima langkah, yaitu, (i) meningkatkan produktivitas petani; (ii) meningkatkan volume produksi; (iii) menurunkan biaya produksi; (iv) menetapkan harga dasar di tingkat petani; (v) meragamkan atau mendiversifikasi produk petani guna menambah pendapatan petani, misalnya melalui integrasi dengan peternakan dan perikanan. 

Berita terkait  Spin Off dan Momentum Kebangkitan Asuransi Syariah di Indonesia

Kunci dari peningkatan tersebut adalah pada pengembangan teknologi pertanian, khususnya pertanian organik. Pengambangan pertanian organik dapat dilakukan dengan memproduksi dan menggunakan pupuk organik yang dapat membantu meningkatkan produktivitas, mendorong efisiensi biaya produksi hingga 50 persen, serta meningkatkan harga produk. Produksi pertanian organik ini bisa menjadi komoditi ekspor ke negara-negara Asia seperti Singapura, Malaysia, Hongkong, dan Taiwan. Ekspor pangan organik bukan hanya menghemat devisa, tetapi juga menghasilkan devisa. Pupuk organik bisa memperbarui kesuburan tanah dan ramah lingkungan. Selain itu, pupuk organik juga dapat diproduksi sendiri oleh petani dengan biaya murah dan teknologi sederhana. 

Pengembangan sektor pertanian dapat menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia ke depan karena mampu menghadirkan kemandirian dan ketahanan pangan, stabilitas harga, penciptaan tenaga kerja, menghasilkan devisa, serta meningkatkan daya beli masyarakat. 

Editor: Pimgi Nugraha

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *