Dalam rangka memperingati Hari Kartini tahun 2021 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, Bank Indonesia menggelar webinar nasional ekonomi dan keuangan syariah dengan tema “Srikandi Ekonomi Syariah Bersinergi Mendukung Pemulihan Ekonomi”, pada Rabu, 21 April 2021.

Dalam Webinar tersebut, Gubernur Bank Indonesia yang juga Ketua Dewan Pakar PP MES, Perry Warjiyo menyampaikan bahwa perempuan-perempuan Indonesia telah berkontribusi nyata dalam menggerakan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia yang inklusif. Perempuan Indonesia telah berperan menjadi katalisator pemulihan perekonomian dalam negeri.

Perry mengungkapkan, Sinergi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah telah dituangkan melalui pendekatan tiga pilar. Pilar pertama, pemberdayaan ekonomi syariah melalui pengembangan ekosistem Halal Value Chain (HVC), termasuk di dalammnya adalah memperkuat dan memperluas peran perempuan dalam kontribusinya kepada ekosistem ekonomi keuangan syariah.

Pilar kedua yaitu pendalaman pasar keuangan syariah baik komersial maupun sosial. Sedangkan pilar ketiga yaitu penguatan riset, asesmen, dan edukasi, termasuk di antaranya edukasi gaya hidup halal.

Ia kemudian menjelaskan bahwa sinergi dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah telah menunjukkan kinerja yang baik. Pada 2020, Indonesia mendapatkan peringkat ke-4 terkait pengembangan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE). Dan semua itu tidak lepas dari peran serta dari para perempuan Indonesia di ekosistem ekonomi nasional.

Webinar yang membahas secara khusus peran perempuan Indonesia dalam perekonomian nasional ini mengundang beberapa tokoh perempuan di bidang ekonomi, diantaranya adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, CEO Danareksa sekuritas yang juga ketua IV PP MES, Friderica Widyasari Dewi, Deputi Gubernur BI, Rosmaya Hadi, Komisaris Utama PT. Paragon Technology and Innovation yang juga anggota Dewan Penyantun PP MES, Nurhayati Subakat, serta Dewan Pembina himpunan ekonomi bisnis pesantren, Umi Waheeda.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *