Kombinasi antara selesainya konsolidasi, aksi konversi dan penambahan lini bisnis akan mendongkrak aset bank syariah pada 2017.

Presiden Direktur Karim Business Consulting Adiwarman A Karim menuturkan, terdapat beberapa peristiwa yang akan mewarnai industri perbankan syariah Indonesia pada 2017. Diantaranya adalah banyaknya bank syariah yang melakukan perubahan model bisnis dan aksi spin off, merger dan konversi bank syariah.

“Ada beberapa bank umum syariah (BUS) yang akan mengubah model bisnis. Ada empat BUS yang diperkirakan akan mengubah model bisnis dan tiga BUS yang akan menambah lini bisnis. Bank Muamalat diperkirakan akan mengubah modelnya, Victoria Syariah juga begitu, sementara BNI Syariah dan BTPN Syariah akan menambah lini bisnis. Tapi sebagian besar bank syariah masih tetap seperti dulu,” ujarnya dalam Islamic Banking Outlook 2017, Rabu (9/11).

Selain perubahan/penambahan lini bisnis, industri perbankan syariah pada 2017 juga akan diwarnai oleh banyaknya bank syariah melakukan spin off, merger dan konversi. “Sehingga diperkirakan tahun depan tambahan aset bank syariah akan berada di angka Rp 33 triliun-Rp 40 triliun,” cetus Adiwarman.

Menurut Adiwarman, proyeksi tambahan aset itu disumbangkan oleh lima hal. Pertama, selesainya proses konsolidasi BUS terbesar di Indonesia, yaitu Bank Syariah Mandiri (BSM). BSM diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan aset yang signifikan dari Rp 75 triliun (Desember 2016) hingga Rp 79 triliun (Desember 2017). “BSM akan menyumbangkan kenaikan aset Rp 4 triliun karena selesainya konsolidasi,” paparnya.

Hal kedua, yaitu berhasilnya proses konversi unit usaha syariah Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB), sehingga di akhir 2017 akan memberikan kontribusi aset Rp 8 triliun. Ketiga, ekspansi lini bisnis mikro oleh lima BUS akan menambah aset sampai Rp 4 triliun. “Ini disumbang oleh lima BUS, yang pertama menurut perkiran kami adalah BTPN Syariah sebesar Rp 2 triliun, empat lainnya adalah BNI Syariah, BRI Syariah, Bank Muamalat dan Bank Syariah Mandiri,” ungkap Adiwarman.

Hal keempat adalah sumbangan aset yang berasal dari ekspansi properti, kendaran roda dua, dan roda empat yang berkontribusi bagi tambahan aset antara Rp 8 triliun-Rp 12 triliun. “Ini disumbang oleh lima BUS dan tujuh unit usaha syariah (UUS). Berikutnya dari modal kerja UKM ada tambahan Rp 4 triliun yang disumbang oleh BUS non BPD,” jelasnya.

Faktor kelima yang akan mendorong peningkatan aset adalah lini bisnis baru di bank syariah, yaitu ekspansi di produk ijarah mutiguna. Ia memperkirakan ekspansi itu akan menyumbang aset antara Rp 5 triliun-Rp 7 triliun. “Ekspansi multiguna ini merupakan penjumlahan dari ekspansi enam BUS dan 20 UUS di lini bisnis multiguna, sebagian besar akan disumbang oleh UUS BPD,” kata Adiwarman.

Kategori: Berita MES

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *