Oleh: Salahuddin Mukhlis*)

Alhamdulillah saya berkesempatan untuk mengikuti pelatihan takmir masjid (mesjid: dalam dialeg Bima) yang diselenggarakan oleh Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) wilayah NTB dan MES Daerah Kabupaten Lombok Timur. Berlangsung di desa wisata Kembang Kuning, dari tanggal 2 sampai 4 Juli 2021. Teman saya menyebutnya Desa Yellow Flower.

Sebanyak 50 takmir dari 25 masjid di Lombok Timur hadir dalam pelatihan angkatan kedua kali ini. 4 hari sebelumnya terselenggara kegiatan yang sama di tempat yang sama, jumlah pesertanya juga sama, namun dari masjid yang berbeda.
Kedua pelatihan tersebut disuport oleh Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB.

“Membangun Wirausaha Syariah Berbasis Masjid Melalui Program Lombok Timur Berkembang”. Demikian tema yang terpampang jelas pada Backdrop berukuran jumbo itu.

Materi dan pemateri berkualitas silih berganti disuguhkan pada kami dari pagi hingga pukul 10 malam, bahkan hingga menjelang pukul 23.
Bukan hanya materi dan pematerinya saja yang berkualitas tapi juga moderatornya. Semuanya doctor. Ada Doktor Ali, Doktor Liana, Doktor Muetia hingga doctor bajang sang raja pantun, Doktor Padlurrahman.

Berwisata ke Kembang Kuning naik kuda..
Jangan lupa mampir di Tete Batu..
Sungguh senang ditemani pemateri muda..
Cuma sayang istrinya baru Satu..
Demikian salah satu pantun yang membelah keheningan malam dengan riuh tawa para peserta.

Pantun itu pun dibalas oleh doctor si raja pantun yang membuat kami semua pulang ke penginapan masing-masing dengan gembira.
Ohya, hampir ketinggalan. Ada satu lagi doctor muda yang belum disebut. Doctor Armin, beliau adalah doctor sang raja lawak. Jangankan beliau berbicara, diam saja lucu.

Lain Doktor Padlurrahman dan Doktor Armin, lain pula Doktor Ali. Beliau terlihat lebih serius. Mungkin karena backround beliau adalah ekonomi jadi harus lebih serius. Karena ekonomi bukan untuk dimain-mainkan.
Kalo Doktor Liana agak sedikit berbeda, di forum beliau memandu diskusi dengan sangat khidmat, khusyu’ dan tawadhu’, tapi di luar forum beliau paling heboh nggak ketulungan.

Nah kalo Doktor Muetia, lembut di luar lembut di dalam.
Di luar maupun di dalam forum sama enjoy nya.
Sungguh beruntung MES Lombok Timur bertabur doctor yang sangat sangat luar biasa.

Tak hanya moderator dan fasilitator, panitia dan sesama peserta juga semuanya ramah dan baik hati.
Yang paling spesial saat acara penutupan. Orang nomor satu di Lombok Timur hadir. Bapak Bupati M Sukiman Azmi. MES ketiban rezeki 600 juta di APBDP 2021 untuk mensuport program yang saat ini sedang digagas dan dijalankan MES.

“saya perintahkan pak Sekda untuk menganggarkan itu”. Ungkap pak Bupati sambil menatap ke pak sekda yang juga ketua PD MES Lotim yang disambut tepuk tangan para hadirin. Sejauh yang saya ketahui, beliau memang cepat respon jika menyangkut kesejahteraan rakyatnya. Karena bukan kali ini saja pemda mensuport program pemberdayaan. Sebelumnya ada Pedang Mas, Baituttamkin, asuransi Sapi, dan lainnya. Beliau termasuk pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya.

MES wilayah NTB dan seluruh jajarannya di daerah khususnya Lombok Timur sedang berjuang membantu ummat agar tidak terjebak lagi pada para pelepas rente (uang riba). Keberadaan mereka seperti menolong di depan tetapi menjerat di belakang dan pada akhirnya, masyarakat hanya menjadi korban.

Tetapi masyarakat sendiri tidak ada pilihan lain. Mereka sebenarnya menyadari apa yang akan terjadi di kemudian hari jika berurusan dengan para rentenir yang berkedok koperasi tersebut. Namun tidak ada pilihan lain. Diambil akan bermasalah namun juga jika tidak diambil, keluarga mau makan apa.

Dan para pelepas uang ini menyadari kelemahan itu. Mereka memanfaatkan ketidakberdayaan masyarakat untuk meraup keuntungan yang tidak sedikit.

Untuk itu, pintu masuk mereka adalah melalui pintu dapur dan yang di dapur siapa ? ya ibu-ibu. Makanya jangan heran jika hampir 100% yang terlilit rentenir itu adalah ibu-ibu. Karena memang mereka masuk melalui pintu dapur.

Itu sebabnya program MES ini hanya melayani ibu-ibu dengan mengorganisasi mereka melalui kelompok-kelompok dengan rentang 15-20 orang per kelompok.

Dimulai dari ibu-ibu dan kemungkinan nanti berlanjut ke anggota keluarganya yang lain.

Fenomena praktek rentenir ini memang marak di masyarakat. Hampir pasti mereka ada di semua tempat dan sistemnya rata-rata sama semuanya, padahal di kampus tidak ada fakultas rentenir. Atau jangan-jangan mereka memiliki konsultan dan ideologi yang sama yaitu kapitalis.

Dahulu kapitalis ditentang oleh sekelompok orang yang menyebut diri mereka sosialis. Lalu lahirlah aliran baru dalam bidang ekonomi dimana tidak boleh lagi ada dominasi ekonomi oleh segelintir orang saja namun ekonomi harus diserahkan pada pasar. Ekonomi harus dibagi rata oleh rakyat.

Dan terbukti sudah beberapa abad, kedua sistem tersebut tidak juga mampu merubah potret kemiskinan. Maka lahirlah sistem ekonomi islam yang menekankan pada keadilan, keridhaan, dan menghindarkan dari sistem bunga/riba, dan unsur-unsur yang merugikan diri sendiri maupun orang lain seperti spekulasi, judi, menimbun barang dan sebagainya. Maka ekonomi islam adalah ekonomi yang sesuai dengan kodrat kemanusiaan.
Maka MES memilih programnya dengan 100% pure syariah yang tanpa bunga, tanpa spekulasi dan tanpa menzolimi orang lain.

Lalu siapa yang paling tepat yang paling depan mengambil peran tersebut?
Salah satunya masjid sebagai pusat/episentrum peradaban dan peribadatan ummat sebaiknya juga difungsikan untuk pembinaan ekonomi ummat.

Masjid memang jangan dijadikan sebagai tempat transaksi duniawi namun masjid lebih diarahkan sebagai tempat pembinaan/literasi keuangan syariah yang saat ini tingkat literasi syariahnya baru 16.3% di NTB.
Semoga kedepannya MES akan terus bersama para takmir untuk membina dan mengembangkan ekonomi ummat. Dari rumah Allah, kita makmurkan buminya. Demikian pesan ketua MES NTB Dr Baiq Mulianah.

Maka keaktifan takmir sangat dibutuhkan untuk mensukseskan cita-cita besar ini. Cita-cita dimana di bumi Allah ini tidak ada lagi orang yang kelaparan dan kesusahan.

Saat belum dimulai memang program ini terlihat sulit akan dijalankan oleh para takmir karena memang belum terbiasa dengan urusan yang menyangkut layanan jasa keuangan. Belum lagi potensi akan ada terjadi perbedaan di antara sesama takmir, jadi prosesnya bisa saja alot.
Resiko macet juga jelas ada ketika program ini sudah mulai turun dan uangnya cair. Begitu uang sejumlah 20 juta dicairkan ke 20 orang maka saat itu juga resiko macetnya 100%.

Tapi tidak perlu kita para takmir ini terlalu khawatir yang akan berimbas pada tidak jalannya program ini di masjid masing-masing Karena MES sudah mengantisipasi hal tersebut dengan menggandeng Bank NTBS, penyuluh dari Kemenag dan juga dari MES sendiri untuk mendampingi para takmir.

Kolaborasi semua dibutuhkan dalam hal ini karena sekarang sudah tidak ada lagi super hero apalagi yang sok jagoan, sok kuat dan sok pintar sendiri. Yang ada hanya Avengers dimana semua kekuatan dan potensi superhero itu bergabung bersinerji untuk mengalahkan musuh besar yang bernama kemiskinan dan RIBA yang ngeRIBAnget. Demikian pesan jelas dari al mukarram Bapak Doktor Ali dalam pengarahannya di pelatihan kemarin.
Semoga…

*) Penulis adalah takmir masjid Al Hijrah, peserta pelatihan angkatan II 2021


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *