Melihat Ekonomi Lebih dari Sekadar Bertumbuh

A group of people sitting at desks in a room

Description automatically generated

Durham, UK – Sabtu (09/11), Pengurus Wilayah Khusus Masyarakat Ekonomi Syariah United Kingdom (MES UK) mengadakan MES UK Research Talk Series dengan mengusung tema “Beyond Sustainability: Degrowth and Its Intersection with Islamic Economics” yang berlokasi di Common Room Keenan House, Durham, UK, diskusi selama satu setengah jam ini membahas tentang kaitan antara degrowth dengan ekonomi Islam. Kurang lebih 20 orang dari berbagai kalangan menghadiri Research talk yang juga disiarkan secara live di laman Facebook MES UK. 

Hadir sebagai pembicara pada kesempatan ini adalah Nur Dhani Hendranastiti, salah satu kandidat PhD Islamic Finance di University of Durham, Peneliti Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Tevy Chawwa dan Ketua Umum Pengurus Wilayah Khusus MES UK, Wahyu Jatmiko.

A group of people sitting at a table

Description automatically generated
Dari kiri ke kanan: Tevy Chawwa, Nur Dhani Hendranastiti, Wahyu Jatmiko

Degrowth memberikan sudut pandang baru dalam berekonomi. Selama ini pembangunan ekonomi hanya dilihat dari sisi pertumbuhannya (growth) melalui produksi dan konsumsi yang diukur dengan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto). Sudut pandang ini mendefinisikan kembali ekonomi dengan tidak hanya mengukurnya secara moneter, tetapi juga melihat kebutuhan manusia dan kemampuan alam untuk mendukung kehidupan manusia.

Nur Dhani menjelaskan degrowth berbeda dengan konsep ekonomi lain “Degrowth ingin megembalikan faktor-faktor produksi pada level yang sama, dengan menghilangkan dominasi pemilik modal pada sistem ekonomi kapitalis dan pekerja pada sistem ekonomi sosialis” ungkapnya.

Meskipun tidak sepenuhnya sama, prinsip ini serupa dengan ekonomi Islam, yang memandang tiadanya dominasi satu faktor produksi terhadap faktor produksi lain. Dengan kata lain, modal, tenaga kerja dan alam memiliki hirarki yang yang setara

Tevy menambahkan bahwa pemerintah seharusnya memasukan indikator-indikator lain dalam rangka pembangunan berkelanjutan. “Walaupun konsep degrowth belum populer, saya yakin dengan semakin tingginya awareness masyarakat terkait degrowth melalui riset-riset kelak pertumbangan kebijakan ekonomi akan semakin baik” jelas Tevy.

Wahyu percaya untuk memajukan ekonomi Islam harus membuka diri dengan perkembangan-perkembangan diskursus ekonomi terkini dan berani berbeda dengan sistem ekonomi yang lain.

Dengan diangkatnya topik degrowth pada research talk kali ini, Wahyu berharap ekonomi Islam dapat mengambil hikmah dari diskursus degrowth, terutama dalam konteks kesetaraan faktor-faktor produksi. “Agar ekonomi Islam tidak terus dan semakin terfokus pada sisi moneter yang bisa menjadikannya mengulangi kesalahan sistem kapitalis yang hanya mengeksploitasi sisi kepentingan pribadi pelaku ekonomi namun tidak mengindahkan sisi altruism mereka” ungkap Wahyu.

About the author: ekonomis

Leave a Reply

Your email address will not be published.Email address is required.