Cara Cerdas Inovasi Pembiayaan

Perlu ada inovasi yang berbeda untuk membuat pembiayaan syariah bisa sustainable.

Dewasa ini, dunia perbankan syariah menjadi primadona bisnis keuangan. Di Indonesia, salah satu varian perbankan syariah, yaitu lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) mengalami pertumbuhan yang signifikan. Data dari PINBUK (Pusat Inkubasi Industri Kecil) mencatat rata-rata muncul 108 lembaga BMT baru pertahun. Ini belum termasuk kooperasi syariah, koppontren (kooperasi pondok pesantren) dan BMT yang belum terdata di PINBUK.

Banyak faktor berperan dalam pertumbuhan LKMS ini. Sebagai lembaga keuangan, kunci keberlangsungannya bertumpu pada aspek komersil (profit making objective). Angka pertumbuhan BMT menunjukkan dengan sendirinya keberhasilan aspek komersil di pihak pengelola. Sementara itu dari pihak nasabah, LKMS sebagai bagian dari sistem ekonomi syariah terbukti dapat memberikan jaminan finansial yang lebih aman bagi para nasabah.

Di sisi yang lain, dimensi sosial yang inheren dalam prinsip muamalat syariah juga membantu perkembangan LKMS. Secara prinsipil, sistem keuangan syariah telah mengandung apa yang disebut John Rawls sebagai keadilan yang distributif. Hal ini terwujud dengan pemberdayaan masyarakat menengah ke bawah melalui produk-produk yang berorientasi kepada sistem yang beasaskan prinsip keadilan, keterbukaan, investasi yang beretika, mengendepankan nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan dalam berproduksi, dan menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan.

Sebagai sistem keuangan non-konvensional, ekonomi syariah hadir dengan berbagai macam produk dan layanan jasa lembaga keuangan yang baru, unik dan menarik. Tak terkecuali LKMS yang berperan dalam pengembangan produk-produk inovatif dalam sektor perbankan. LKMS menjadi lembaga keuangan alternatif yang kredibel dan dapat dinikmati oleh seluruh golongan masyarakat tanpa terkecuali. Dalam konteks pengelolaan perekonomian mikro, meluasnya penggunaan berbagai produk dan instrumen keuangan syariah akan dapat merekatkan hubungan antara sektor keuangan dengan sektor riil serta menciptakan harmonisasi di antara kedua sektor tersebut.

Terlepas dari hal itu, dunia keuangan dan perbankan adalah medan yang luas dan sangat dinamis. Di dunia dengan daya yang terbatas dan kepentingan milyaran manusia yang semakin kompleks, lembaga keuangan apapun bentuknya perlu bergerak kompetitif dalam merespon pergerakan pasar dan kebutuhan komoditas tertentu. Termasuk lembaga keuangan syariah terutama LKMS. Untuk dapat menjaga keberlangsungannya, inovasi-inovasi terbaru perlu dilahirkan.

 

Perlunya Direfensiasi Inovasi Pembiayaan ke Banyak Sektor

Di antara sektor yang sangat erat dengan inovasi pembiayaan adalah sektor-sektor komoditas strategis, seperti pertanian, perkebunan, perikanan, pedagang kecil (pedagang pasar), kolektif pedesaan hingga komoditas rumahan.

Baru-baru ini, gebrakan penting dilakukan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Dalam rangka mendorong optimisme swasembada pangan di tengah fenomena defisit pangan yang dialami Indonesia, Kadin gencar menginisiasi inovasi pembiayaan guna meningkatkan produktivitas petani, terutama pada komoditas strategis.

Usaha-usaha semacam ini memang penting. Sejumlah komoditas strategis memerlukan inovasi pembiayaan untuk merealisasikan produktivitas yang ideal. Contoh suksesnya adalah keberhasilan peningkatan produktifitas kelapa sawit. Melalui program Inti-Plasma, program  kemitraan antara petani dan pelaku usaha yang didukung pemerintah dan World Bank, Indonesia berhasil menjadi produsen kelapa sawit nomor satu di dunia.

Sementara itu, jangkauan inovasi produk pembiayaan LKMS belum angka maksimal. Saat ini LKMS sudah banyak memberikan fasilitas pembiayaan bagi UMKM khususnya bagi para pedagang kecil. Hal ini terbukti sangat membantu mereka dalam produktifitas dan pengembangan usaha. Di luar itu, masih banyak sektor-sektor yang belum tersentuh pembiayaan LKMS.

Untuk menjaga sustainibilitasnya, LKMS perlu berimajinasi menghasilkan produk-produk perbankan baru. Inovasi produk baru mengimplementasikan dua aspek penting yang menjadi syarat keberlangsungan lembaga keuangan mikro, yaitu lebar jangkauan (breadth of outreach) dan kedalaman jangkauan (depth of outreach). Lebar jangkauan lembaga keuangan mensyaratkan semakin banyaknya nasabah yang terlayani, sementara kedalaman jangkauan mensyaratkan semakin ekstremnya level kemiskinan masyarakat yang dilayani. Dengan inovasi jenis produk, kedua hal itu akan terpenuhi karena secara tidak langsung akan menampung semakin banyak orang dengan beragam latar belakang.

 

Pembiayaan Thoharoh

Salah satu inovasi pembiayaan menarik dan strategis yang dapat dijadikan inspirai bagi banyak LKMS adalah apa dilakukan oleh BPRS Harta Insan Karimah Grup. Lembaga keuangan ini menginisiasi pembiayaan dalam sektor WASH (Water Sanitation Hygiene) melalui program Thoharoh.

Pemilihan istilah Thoharoh sendiri selain berkorelasi dengan sektor tersebut, jug berkaitan erat dengan semangat religius. Dalam khazanah fikih, thoharoh yang secara literal memiliki makna bersuci, adalah aspek pendukung utama dalam beribadah. Absah tidaknya ibadah seseorang muslim bergantung kepada kesempurnaan thoharoh. Ini pula semangat yang ingin ditularkan melalui program Thoharoh. Melalui program Thoharoh diharapkan kualitas ibadah dan produktifitas seseorang meningkat sehingga efek dominonya akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan bangsa.

Program Thoharoh ini bertujuan memberikan layanan pembiayaan dalam sektor perairan, sanitasi dan kebersihan. Seperti pembangunan toilet, akses air bersih, pembangunan septic tank, saluran air dll. Dengan program ini diharapkan akses masyarakat terhadap air bersih semakin mudah, serta peningkatan kualitas sanitasi dan kebersihan secara umum.

Sektor perairan di sini ditujukan kepada segala hal yang berhubungan dengan tatacara dan sarana masyarakat dalam mengakses air bersih, proses mendapatkannya serta pengolahan kualitas air. Sementara sektor sanitasi berhubungan dengan hal-ihwal terkait limbah metabolisme manusia, dari penggunaan toilet dasar dan proses pemisahan kotoran dari kontak dengan masyarakat. Salah satu tujuan dari program Thoharoh subsektor sanitasi adalah mengakhiri praktek buang air besar secara terbuka dan menfasilitasi masyarakat dalam membangun, memelihara dan menggunakan toilet dengan baik dan benar. Sementara itu sektor hygiene ditujukan untuk memelihara praktek kebersihan yang baik.

Program pembiayaan Thoharoh ini diperuntukan bagi masyarakat umum dengan klasifikasi individu, komunitas, kelompok, BMT maupun koperasi dan UMKM yang memerlukan. Program ini terdiri dari beberapa skema pembiayaan yang terdiri dari 4 segmen:

  1. Pembiayaan toilet. Baik berupa pembuatan sarana baru atau perbaikan fasilitas hajat kecil dan besar.
  2. Pembiayaan fasilitas air untuk kepentingan umum. Baik pembuatan sarana baru atau perbaikan fasilias kebutuhan air seperti akses air, sambungan PDAM, pompa air, sumur, pipa air dan sarana penampungan air hujan.
  3. Pembiayaan penyaringan air. Pembuatan sarana baru atau perbaikan fasilitas penyaringan air agar bisa dikonsumsi seperti mesin filter air kotor, alat filter kesehatan air atau purifikasi air dan mesin minuman galon.
  4. Pembiayaan fasilias air untuk publik/masyarakat. Pembuatan fasilitas baru atau perbaikan sarana thoharoh seperti tempat air wudhu, mini PDAM, fasilitas air cipta karya dan rekasaya akses air bersama yang sesuai dengan kebutuhan tertentu.

Dalam mekanisme penerapannya, program Thoharoh memiliki dua kategori yaitu:

  1. Mekanisme kerjasama penuh dengan mitra kontraktor, dengan cara menunjuk pihak ketiga untuk membangunkan fasilitas air dan toilet yang sesuai dengan paket yang dipilih oleh nasabah. Setelah selesai membangun, BPRS melakukan pencairan ke kontraktor dan selanjutnya nasabah membayar cicilan ke BPRS.
  2. Mekanisme mandiri, dengan cara nasabah menunjuk tukang bangunan sendiri untuk membangun fasilitas air dan toilet. Pencairan dilakukan bertahap sesuai dengan progress kemanjuan pembangunan.

Pengadaan Thoharoh sebagai program inovasi pembiayaan tidak hanya menyasar aspek finansial masyarakat, namun juga bertujuan mewujudkan visi holistik yang memiliki lima dimensi utama landasan implementasi, yaitu:

  • Dimensi Ibadah, karena program ini memfasilitasi akfititas bersuci dengan sarana air yang bersih dan sehat.
  • Dimensi Lingkungan, karena program ini bergerak untuk mewujudkan kebersihan lingkungan dan masyarakat secara umum.
  • Dimensi Kesehatan. Apabila program ini berjalan dengan baik, secara tidak langsung akan memperbaiki kualitas kesehatan individu dan kelompok yang terlibat dalam program maupun masyarakat secara luas.
  • Dimensi Sosial. Dimensi ini terwujud melalui bantuan kepada masyarakat yang tidak mampu serta tidak memperhatikan penerapan kebersihan dan kesehatan yang bekenaan dengan air dan sanitasi.
  • Dimensi Bisnis. Yaitu memberikan inovasi produk pembiayaan yang efektif dan efesien serta dapat memberikan feedback bisnis yang produktif.

Transformasi dan diferensiasi produk pembiayaan dalam era modern saat ini sangat diperlukan dalam rangka menjaga keberlangsungan usaha sebuah lembaga jasa keuangan syariah. Pembiayaan Thoharoh dapat menjadi satu contoh inovasi produk jasa pembiayaan, khususnya bagi lembaga-lembaga keuangan mikro syariah untuk dapat lebih kompetitif dalam merespon pergerakan pasar dan kebutuhan akan komoditas-komoditas. Sehingga realisasi visi bisnis yang memiliki nilai tambah dan terobosan baru dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan daya saing usaha dan bisnis perbankan syariah.

 

Sumber

About the author: ekonomis

Leave a Reply

Your email address will not be published.Email address is required.