Landasan Fiqh Asuransi Syariah

Berbicara asuransi, bagi sebagian masyarakat Indonesia masih menyisakan berbagai persoalan baik pro dan kontra. Sebagian masyarakat masih memandang asuransi memiliki unsur yang merugikan dan bertentangan dengan agama. Hal ini menyebabkan rendahnya kesadaran mereka akan pentingnya memiliki asuransi sebagai bentuk perlindungan diri pribadi. Untuk menjembatani permasalahan tersebut, saat ini terdapat asuransi dengan prinsip syariah.

Majelis Ulama Indonesia melalui Dewan Syariah Nasional telah menyepakati bahwa praktek Asuransi Syariah di Indonesia itu halal dan diperbolehkan selama produk asuransi tersebut dikelola dengan prinsip syariah. Hal tersebut telah tertuang dalam berbagai fatwa, diantaranya :

– Fatwa No 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.
– Fatwa No 51/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Mudharabah Musytarakah pada Asuransi Syariah
– Fatwa No 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Wakalah Bil Ujrah pada Asuransi Syariah dan Reasuransi Syariah
– Fatwa No 53/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Tabarru pada Asuransi Syariah

MUI juga menegaskan aturan akad yang digunakan dalam asuransi. Akad yang dimaksud adalah perikatan antara peserta asuransi dengan perusahaan asuransi. Di dalam akad tidak boleh terdapat unsur gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan maksiat karena tujuan akad adalah saling tolong-menolong dengan mengharapkan ridha dan pahala dari Allah.

Adapun akad-akadnya yaitu :
1. Akad Tijarah
Akad tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial. Maksud tujuan komersial dalam asuransi syariah adalah mudharabah, yakni investasi yang dilakukan oleh perusahaan asuransi yang dananya didapati dari dana premi peserta asuransi. Hal ini dilakukan guna mendapatkan keuntungan karena dalam asuransi syariah, perusahaan asuransi diwajibkan melakukan investasi.

2. Akad Tabbaru’
Akad tabarru’ adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan hanya untuk tujuan komersial. Kontribusi para peserta yang terkumpul menjadi dana hibah dalam bentuk dana tabarru yang dikelola oleh perusahaan asuransi. Selanjutnya, dana tabarru yang terkumpul digunakan untuk klaim asuransi bagi peserta yang terkena musibah.

3. Akad Wakalah bil ujrah
Akad Wakalah adalah akad di mana peserta memberikan kuasa kepada perusahaan asuransi dengan imbalan pemberian ujrah (fee) untuk mengelola kontribusi peserta baik untuk keperluan dana tabarru dan atau dana investasi peserta . Sifat akad wakalah adalah amanah, jadi perusahaan asuransi bertindak sebagai wakil yang bertanggung jawab dalam mengelola amanah proteksi dan investasi para peserta.

Akad-akad yang inilah yang kemudian menjadikan asuransi syariah sebagai suatu bentuk perlindungan terhadap risiko ekonomi yang tidak dapat diprediksikan di masa depan. Sekarang, sudah bukan saatnya untuk ragu terhadap kehalalan asuransi syariah.

About the author: ekonomis

Leave a Reply

Your email address will not be published.Email address is required.